Kelas Inspirasi : Memahami Lintasan Pengetahuan Siswa

Gambar

Apa yang kurang dengan guru-guru dalam pembelajaran siswa di kelas sehingga muncul ide “kelas Inspirasi”.  Mungkin ini yang menjadi penyebab yaitu pemahaman kurang terhadap peserta didik. Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu standar profesi guru, diantaranya pemahaman guru terhadap lintasan pengentahuan dikonstruksi oleh siswa ketika terjadi proses pembelajaran. Peran guru lebih merupakan fasiliator, motivator dan evaluator  dalam proses-proses pembelajaran yang secara autentik dialami oleh peserta didik sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.

Pertama, lintasan  pengetahuan siswa dibangun berdasarkan  pengalaman. Jangan pernah memahami siswa sebagai kertas kosong tanpa ide, karena apabila itu dilakukan, guru akan memahami siswa sebagai obyek  dimana pengetahuan guru diperlakukan secara sepihak. Dalam konteks ini, guru hampir tidak pernah mencoba memahami  bagaimana siswa mengalami proses penemuan pengetahuan karena pengetahuan siswa hanya sekedar memorisasi dan konsumsi pengetahuan. Dalam memorisasi, siswa diminta untuk mengingat tumpukan informasi yang suatu saat dibutuhkan dapat mengingat kembali (recall). Sedangkan dalam mengkonsumsi pengetahuan, siswa memakai, menggunakan dan menikmati pengetahuan. Kegiatan memorisasi dan konsumsi pengetahuan  merupakan kegiatan pre-reflektif individu dalam  kehidupannya. Kegiatan pre-reflektif adalah gambaran kehidupan  sebagaimana adanya, sebagaimana biasanya terjadi dan tidak mengalami perubahan yang berarti, tidak imajinatif.

Kedua, tidak seperti pengetahuan pada tahap pre-reflektif, medium kognitif merupakan cara utama dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa menghasilkan pengetahuan melalui proses kognitif—skemata, akomodasi, asimilasi—untuk mengembangkan suatu keseimbangan pengetahuan dengan lingkungannya.  Skemata adalah pengetahuan awal manusia mengenai lingkungannya yang berkembang  melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dalam mengkonstruksi pengetahuan, siswa senantiasa dihadapkan pada keadaan ketidakseimbangan antara pengetahuan awal dengan informasi baru dari lingkungannya. Dia akan melakukan penyesuaian dengan menambah informasi baru (asimilasi) atau  merubah dan mengganti (akomodasi)  pengetahuan awal tersebut sehingga membentuk  keseimbangan dalam kognisinya. Dalam konteks ini, siswa menpunyai struktur kognisi yang mengalami  penyesuaian-penyesuaian ketika menghadapi ketidakseimbangan antara informasi dalam kognisinya dengan informasi yang bersumber dari limngkungannya. Guru membeberkan sejumlah kontradiksi-konstradiksi  yang memotivasi siswa untuk melakukan penyesuaian struktur informasi dalam kognisinya. Konstruksi  pengetahuan pada level ini adalah bergerak dari sederhana ke kompleks yang disadari sebagai suatu lintasan pengetahuan individual. .

Gambar

Ketiga, pengetahuan dikonstruksi melalui medium budaya. Budaya merupakan hasil cipta manusia dalam suatu entitas    di lokasi diskrit. Domain-domain dalam suatu budaya ditangkap maknanya oleh manusia sebagai awal kegiatan mengkonstruksi pengetahuan.  Ini berarti pula makna dipahami sebagai hasil intersubyektif antara orang-orang  dalam suatu entitas budaya. Mulai dengan melakukan pengamatan terhadap peristiwa, melakukan kategorisasi simbolik dari peristiwa tersebut, menemukan pola dan hubungan-hubungan untuk menghasilkan struktur esensial dari peristiwa tersebut. Struktur esensial tersebut  adalah pengetahuan yang dikonstruksi melalui medium budaya. Dalam konteks ini, pengetahuan dikontekstulisasi  diantara siswa termasuk guru dalam interaksi sosial, bukan teks yang  didiktekan kepada siswa. Dengan demikian pengetahuan tidak menjadi netral dari nilai-nilai suatu budaya atau dengan kata lain pembelajaran tidak kedap dari standar normatif suatu budaya (lokal, regional dan nasional).

Kompleksitas pengetahuan dikonstruksi oleh siswa menghantarkan guru kepada pemahaman bahwa pengetahuan profesionalnya adalah fokus pada fakta bahwa bagaimana sesuatu bekerja dalam berbagai situasi pembelajaran di kelas. Guru adalah mereka yang berpikir tentang situasi, memutuskan-berdasarkan pengamatan dan penyelidikan sehingga mereka memperoleh pengetahuan klinis terkait dengan pekerjaan.  Pengetahuan klinis seperti itu adalah bentuk pengetahuan profesional yang diperoleh melalui pengalaman langsung dalam praksis. Atas dasar pengetahuan klinis tersebut, guru membimbing siswa melakukan imajinasi tentang pengetahuannya, perasaannya dan mulai melakukan pilihan-pilihan karakterisasi dirinya. Selamat berimajinasi dan  mengembangkan inspirasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s