Terjemah MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH karangan ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

Khalaqoh ke 094 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 4
TASAWUF:
PAKAIAN KEPALSUAN?

PARA IMAM TASAWUF MENGAJAK UNTUK MENGAMALKAN SYARIAT 03

Maka untuk menyikapi sikap sebagian umat Islam yang “miring” tentang tasawuf itu, saya ingin mengutip perkataan dan fatwa para Imam atau ulama’ tasawuf dan pakarnya. Secara khusus, saya ingin mengungkapkan pendapat mereka itu tentang (pengamalan) syariat islam supaya kita mengetahui posisi dan sikap mereka yang sebenarnya. Bagaimana pun, jika ingin mengetahui pendapat seseorang, kita harus bertanya kepadanya secara langsung. Sebab, manusia adalah sebaik-baik orang yang mengungkapkan tentang dirinya dan pendapatnya, dan orang yang dapat dipercaya untuk mengekspresikan apa yang ada dalam benaknya.
Imam Junaid ra. berkata, “Tarikat-tarikat – jalan-jalan menuju Allah – itu terhalang dari makhluk kecuali bagi orang yang mengikuti dengan Al Qur’an dan Sunnah nabi Muhammad Saw serta tidak menuduh – atau menyangsikan – detakan hatinya, jangan dihitung dalam barisan jajaran orang-orang mulia.”
Abu Al Qasim Al Junaid bin Muhammad ra. berkata, “Siapa yang tidak menghafal – atau menjaga – Al Qur’an dan tidak menulis hadits, maka ia tidak perlu diikuti dalam urusan (tasawuf) ini. Sebab ilmu (tasawuf) kita terikat dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.” Ia juga berkata, “Mazhab kami terikat dengan ushul – prinsip pokok – Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Ilmu kami tentang tasawuf ini diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw.”

الصلاة المنجية
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْـنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ وَتَقْضِى لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

“Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw yang dengannya (sholawat), Engkau menyelamatkan kami dari segala huru-hara dan kerusakan, dengannya juga Engkau tunaikan segala hajat keperluan kami, Engkau bersihkan kami dari pada segala kejelekan, Engkau mengangkat kami kepada setinggi-tinggi derajat di sisi-Mu dan Engkau menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dari pada segala kebaikan semasa hidup kami dan selepas mati. Limpahkanlah juga rahmat kepada keluarganya dan pada sahabatnya, dan keselamatan yang melimpah ruah kepada mereka.”

________________________

Khalaqoh ke 095 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 4
TASAWUF:
PAKAIAN KEPALSUAN?

PARA IMAM TASAWUF MENGAJAK UNTUK MENGAMALKAN SYARIAT 04

Abu Usman Sa’id bin Isma’il al Hiyari berkata, “Ketika kondisi Abu Usman sedang kritis, putranya – yang bernama Abu Bakar – merobek-robek bajunya (karena khawatir) atas diri (ayah)nya. Lalu Abu Usman membuka kedua matanya seraya berkata, ‘Hai anakku (pelaksanaan) Sunnah dalam tampilan lahiriyah merupaka tanda kesempurnaan dalam bathin’. Ia juga mengatakan, ‘Bersahabat dengan (taqarrub kepada) Allah itu dengan adab atau etika yang dan selalu merasa segan atau takut’. Bersahabat dengan Rasulullah Saw adalah dengan mengikuti Sunnahnya dan menetapi zahir-nya ilmu. Dan bersahabat dengan para Wali Allah adalah dengan menghormatinya dan berkhidmat kepadanya. Adapun bersahabat dengan keluarga (istri) adalah dengan akhlak yang bagus. Bersahabat dengan saudara-saudara – atau teman-teman – adalah dengan selalu riang selama tidak mengandung dosa. Adapun bersahabat dengan orang-orang bodoh adalah dengan do’a dan kasih sayang’.” Ia juga pernah berkata, “Siapa yang menjadikan Sunnah Rasulullah Saw sebagai amir (pemerintah atau kendali) atas dirinya, baik dalam perkataannya maupun perbuatannya, maka ia pasti akan berbicara dengan hikmah; segala perkataannya mengandung hikmah dan faedah. Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan hawa nafsu sebagai kendali atas dirinya, maka ia akan berbicara dan berperilaku sejalan dengan bid’ah. Dalam hubungan ini, Allah Swt berfirman, “dan jika kamu mengikuti Rasul, pasti kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al Nur [24] : 54)

صلاة الفاتح
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد نِ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْم وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami, Nabi Muhammad saw, pembuka bagi sesuatu yang terkunci, penutup segala para Nabi yang terdahulu, pembela kebenaran dengan kebenaran dan petunjuk ke jalan-Mu yang lurus. Limpahkanlah rahmat kepada keluarganya dengan karunia yang layak dengan kadar dan derajatnya yang agung.

_______________________

Khalaqoh ke 096 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 4
TASAWUF:
PAKAIAN KEPALSUAN?

PARA IMAM TASAWUF MENGAJAK UNTUK MENGAMALKAN SYARIAT 05

Abu Al Hasan Ahmad bin Muhammad Al Nury berkata, “siapa yang anda ketahui mengaku mempunyai suatu kemuliaan dari Allah yang mengeluarkannya dari batasan ilmu syariat, janganlah anda dekati.”
Abu Al Fawaris Syah bin Syuja’ Al karmany berkata, “Siapa yang memejamkan matanya dari segala yang diharamkan, menahan dirinya dari hawa nafsu, memakmurkan batin/dirinya dengan selalu muroqobah (waspada) dan lahirnya selalu mengikuti Sunnah serta membiasakan dirinya memakan yang halal, maka firasat (pendapat)nya tidak akan salah.”

________________________

Khalaqoh ke 097 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 4
TASAWUF:
PAKAIAN KEPALSUAN?

PARA IMAM TASAWUF MENGAJAK UNTUK MENGAMALKAN SYARIAT 06

Abu Al ‘Abbas Ahmad bin Sahal bin ‘Atha’ Al Admy berkata, “Siapa yang membiasakan dirinya mengikuti adab-adab syari’at, maka Allah Swt akan menyinari hatinya dengan cahaya ma’rifah (pengenalan kepada Allah) dan ia akan diberi-Nya kedudukan (maqm) sebagai pengikut kekasih Allah, Nabi Muhammad Saw, dalam segala perintahnya, perbuatannya, dan akhlaknya.”
Abu Al Abbas pun pernah suatu ketika berkata, “setiap pertanyaan yang dilontarkan kepadamu, carilah jawabannya dalam gudang ilmu. Jika engkau tidak mendapatkannya, carilah di medan hikmah. Jika masih belum engkau dapatkan, timbanglah dengan tauhid. Jika pada ketiga tempat tersebut tidak engkau dapatkan juga, pukulkanlah pertanyaan itu ke muka syetan.”

رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْنِ
”Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung kepada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku.”

_______________________

Khalaqoh ke 098 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 4
TASAWUF:
PAKAIAN KEPALSUAN?

PARA IMAM TASAWUF MENGAJAK UNTUK MENGAMALKAN SYARIAT 07

Abu Hamzah Al Baghdady Al Bazzaz berkata, “Siapa yang mengetahui jalan (menuju) Al Haq (Allah Swt), maka mudahlah baginya menempuh jalan tersebut. Dan tidak ada petunjuk jalan untuk menuju Allah Swt selain mengikuti Sunnah Rasulullah Saw dalam segala tingkah lakunya, perbuatannya, dan perkataannya.”
Abu Ishak Ibrahim bin Dawud Al Raqy berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah mendahulukan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُوْنَ. فَتَعَالَى الله الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ. وَمَنْ يَدْعُ مَعَ الله إِلَهًا آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ, إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ, وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرَ الرَّاحِمِيْنَ
”Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) Arsy yang mulia. Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. Dan katakanlah:”Ya Tuhanku, berilah ampun dan berilah rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik.”(Al-Mu’minun:115-118).

______________________

Khalaqoh ke 099 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 4
TASAWUF:
PAKAIAN KEPALSUAN?

PARA IMAM TASAWUF MENGAJAK UNTUK MENGAMALKAN SYARIAT 08

Mamsyad Al Danuri berkata, “Adab atau etika seorang murid (pengikut tarikat) adalah selalu mengikuti guru-gurunya, berkhidmat kepada teman-temannya, keluar dari “sebab-sebab” – atau hukum kausalitas – memelihara diri untuk selalu menjaga adab-adab syariat Islam.”
Abu Muhammad Abdullah bin Manazil berkata, “Seseorang tidak menyia-nyiakan salah satu kefarduan dari Allah Swt kecuali ia akan diuji dengan (suka) menyia-nyiakan yang disunatkan-Nya. Jika seseorang telah diuji dengan menyia-nyiakan yang sunat, dikhawatirkan ia akan diuji dengan hal-hal yang bid’ah.”

أَعُوْذُ بِالله السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan syetan yang terkutuk.”

_______________________

Khalaqoh ke 100 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

ANTARA BID’AH YANG BAIK DAN BID’AH YANG JELEK 01

Diantara umat Islam yang mengaku ulama’ atau pakar ajaran Islam ada orang yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah ulam’ salaf yang saleh. Mereka mengaku sebagai pengikut para ulama’ salaf – juga mengaku Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Dengan gagah berani dan penuh kebaggaan, mereka mengajak umat Islam untuk mengikuti jejak langkah atau Sunnah para ulama’ salaf yang saleh dengan cara-cara primitif, penuh kebodohan, fanatisme buta, dengan pemahaman yang dangkal dan dengan dada (pengertian) yang sempit. Bahkan, mereka juga berani memerangi setiap sesuatu yang yang baru dan mengingkari setiap penemuan yang baik dan berfaedah hanya karena dinilai – oleh pemahaman mereka yang sempit – sebagai bid’ah. Dalam pemaham mereka, tidak ada sesuatu yang bid’ah kecuali pasti menyesatkan. Mereka tidak mau melihat adanya realitas yang menuntut adanya pembedaan antara bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah, “yang menyesatkan”. Padahal, ruh Islam menghendaki adanya pembedaan antara berbagai bid’ah yang ada. Semestinya umat Islam mengakui bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang sesat atau menyesatkan. Yang demikian itulah yang menjadi tuntutan akal yang cerdas dan pemahaman atau pandangan yang cemerlang.

أَللَّهُمَّ إِنِّى أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِي نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخْرَةِ

Ya Alloh, sesungguhnya aku berpagi hari berada dalam kenikmatan, kesehatan dan ampunan dari-Mu. Sempurnakanlah nikmat-Mu, kesehatan-Mu dan ampunan-Mu kepadaku di dunia dan akhirat”,

_____________________________

Khalaqoh ke 101 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

ANTARA BID’AH YANG BAIK DAN BID’AH YANG JELEK 02

Itulah yang di-tahqiq atau diakui kebenarannya setelah dilakukan penelitian oleh para ulama ushul (fiqh) dari kalangan ulama’ salaf yang saleh, seperti Imam Al Izz bin Abdussalam, Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Jalaluddin Al Mahally, dan Imam Ibnu Hajar – rahimahumullah Ta’ala.
Hadits-hadits Nabi Muhammad Saw – untuk menghindari kesalah pahaman – perlu ditafsiri sebagiannya dengan sebagian hadits yang lain, dan diperjelas kesempurnaan arahnya dengan hadits-hadits lainnya. Umat islam perlu memahami sabda Rasulullah Saw itu dengan pemahaman yang cermat dan komprehensif, sempurna dan menyeluruh. Jangan sekali-kali memahaminya secara persial atau sepotong-sepotong. Ia juga mesti dipahami dengan ruh Islam dan sesuai dengan pendapat para ulama’ salaf yang saleh.
Oleh karena itu, kita menemukan banyak hadits yang untuk memahaminya secara benar diperlukan kecemerlangan akal, kecerdasan intelektual, dan pemahaman yang mendalam serta disertai hati yang sensitif yang pemaknaan dan pemahamannya didasarkan pada “lautan syariat Islam” sambil memperhatikan kondisi dan situasi umat islam dan berbagai kebutuhannya. Situasi dan kondisi umat memang harus diselaraskan dengan batasan-batasan kidah Islam dan teks-teks Al Qur’an dan Sunnah nabi Muhammad Saw; tidak boleh keluar darinya.

أللّهمّ إِنِّى أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلآئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ, أَنَّكَ أَنْتَ الله َلآ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ, وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُك
“Ya Alloh, sesungguhnya di pagi hari ini aku bersaksi kepada-Mu dan bersaksi pula kepada para malaikat pemikul Arasy-Mu serta semua makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Alloh Yang tidak ada Tuhan selain Engkau, dan bahwa Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Mu”

________________________

Khalaqoh ke 102 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

ANTARA BID’AH YANG BAIK DAN BID’AH YANG JELEK 03

Diantara contoh hadits yang perlu dipahami secara benar dan komprehensif, proporsional, dan sempurna adalah sabda Nabi Muhammad Saw berikut:
كل بدعة ضلالة
Setiap bid’ah adalah dlalalah, “menyesatkan”
Untuk memahami hadits seperti itu, kita mesti mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bid’ah dalam hadits tersebut adalah bid’ah sayyi’ah, yakni bid’ah yang salah dan mnyesatkan. Bid’ah yang dimaksud dengan sabda Nabi Muhammad Saw tersebut adalah suatu peribadahan yang tidak didasarkan pada ajaran pokok agama Islam.
Pendekatan yang seperti itu pula yang harus digunakan untuk memahami berbagai hadits, seperti hadits berikut:
لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد
Tidak ada salat – yang sempurna – bagi tetangga masjid kecuali (yang dilakukan) didalam masjid.
Hadis di atas, meskipun mengandung “pembatasan” (hashr) yakni menafikan salat dari tetangga masjid, tetapi kandungan umum dari berbagai hadis lain mengenai salat mengisyaratkan bahwa hadis tersebut perlu dapahami dengan sautu kayyid atau pengikat. Maka pengertiannya, tidak ada salat (fardhu) yang sempurna bagi tetangga masjid, kecuali di masjid.

عن أنس رضي اللَّه عنه ، أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَخذَ سيْفاً يوم أُحدٍ فقَالَ: « مَنْ يأْخُذُ منِّي هَذا ؟ فبسطُوا أَيدِيهُم ، كُلُّ إنْسانٍ منهمْ يقُول : أَنا أَنا . قَالَ: «فمنْ يأَخُذُهُ بحقِه ؟ فَأَحْجمِ الْقومُ ، فقال أَبُو دجانة رضي اللَّه عنه : أَنا آخُذه بحقِّهِ ، فأَخَذهُ ففَلق بِهِ هَام الْمُشْرِكينَ». رواه مسلم .
Dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengambil pedangnya pada hari perang Uhud, kemudian bersabda: “Siapakah yang suka mengambil pedang ini daripadaku?” Orang-orang sama mengacungkan tangannya masing-masing, yakni setiap orang dari sahabat-sahabat itu berbuat demikian sambil berkata: “Saya, saya.” Beliau berkata lagi: “Siapakah yang dapat mengambilnya dengan menunaikan haknya?” Orang-orang semuanya berdiam diri. Selanjutnya Abu Dujanah – namanya sendiri Simak bin Kharsah – berkata: “Saya dapat mengambil pedang itu dengan menunaikan haknya.” Pedang itu lalu digunakan oleh Abu Dujanah untuk memenggal kepala-kepala kaum musyrikin.” (Riwayat Muslim)

_______________________

Khalaqoh ke 103 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

ANTARA BID’AH YANG BAIK DAN BID’AH YANG JELEK 04

Begitu pula berkenaan dengan hadits Rasulullah Saw dibawah ini:
لا صلاة بحضرة الطعام
Tidak ada salat dengan (tersedianya) makanan.
Maksudnya, tidak ada salat yang sempurna jika makanan telah tersedia. Seperti itu pula pendekatan yang harus kita gunakan untuk memahami hadits berikut:
لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
Tidak beriman – dengan keimana sempurna – salah seorang diantaramu kecuali ia mencintai sesuatu untuk saudaranya seperti ia mencintainya untuk (kepentingan) dirinya.
Bagitu juga hadits berikut:
والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن ، قيل : من يا رسول الله ؟ قال : من لم يأمن جاره بوائقه
“Demi Allah, tidak beriman; demi Allah tidak beriman; deni Allah tidak beriman – dengan keimanan yang sempurna.” Ada yang bertanya: “Siapakah – yang tidak sempurna keimanannya itu – wahai Rasulullah?” Dia bersabda: “Orang-orang yang tidak menyelamatkan tetangganya dari gangguannya.”

عن الزُّبيْرِ بنِ عديِّ قال: أَتَيْنَا أَنس بن مالكٍ رضي اللَّه عنه فشَكوْنا إليهِ ما نلْقى من الْحَجَّاجِ. فقال: «اصْبِروا فإِنه لا يأْتي زمانٌ إلاَّ والَّذي بعْده شَرٌ منه حتَّى تلقَوا ربَّكُمْ » سمعتُه منْ نبيِّكُمْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه البخاري .
Dari Zubair bin ‘adiy, katanya: “Kita semua mendatangi Anas bin Malik r.a., kemudian kita mengadukan padanya perihal apa yang kita temui dari perlakuan Hajjaj – seorang panglima dari dinasti Bani Umayyah dan ia adalah seorang zalim, lalu Anas berkata: “Bersabarlah engkau sekalian, sebab sesungguhnya saja tidaklah datang sesuatu zaman melainkan apa yang sesudahnya itu tentu lebih buruk daripada zaman itu sendiri, demikian itu sehingga engkau sekalian menemui Tuhanmu. Ucapan semacam ini pernah saya dengar dari Nabimu sekalian s.a.w. (Riwayat Bukhari)

__________________________

Khalaqoh ke 104 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

ANTARA BID’AH YANG BAIK DAN BID’AH YANG JELEK 05

لا يدخل الجنة قتات
Tidak masuk surga pengadu domba.
ولا يدخل الجنة قاطع رحم، وعاق لوالديه
Tidak masuk surga pemutus tali persaudaraan. Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Menurut para ulama’, yang dimaksud tidak masuk surga itu adalah tidak masuk secara baik dan utama, atau tidak masuk surga jika menganggap halal atau boleh melakukan perbuatan munkar seperti itu. Jadi, para ulama’ – atau pakar – itu tidak memahami hadits menurut lahirnya; mereka memahaminya melalui takwil.
Maka harus seperti itulah memahami hadits tentang bid’ah. Keumuman kandungan berbagai hadits serta kondisi dan sikap para sahabat yang mengesankan bahwa yang dimaksud dengan bid’ah dalam hadits tersebut hanyalah bid’ah sayyia’ah (bid’ah yang jelas-jelas tidak ada landasan pokok dari ajaran agama Islam); tidak semua bid’ah.

حَسْبِيَ الله لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
“Cukuplah Alloh bagiku, tiada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakkal. Dia adalah Rabb Arasy yang agung”

__________________________

Khalaqoh ke 105 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

ANTARA BID’AH YANG BAIK DAN BID’AH YANG JELEK 06

Cobalah kita perhatikan hadits-hadits berikut ini:
من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة
Siapa yang menetapkan – atau melakukan – suatu kebiasaan (Sunnah) yang baik, maka ia berhak mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat…
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين
Hendaklah kamu sekalian (mengikuti) Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang cerdik pandai dan mendapat petunjuk…
Perhatikan juga perkataan Umar bin Khattab ra. mengenai salat tarawih: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (Yakni, melakukan salat tarawih dengan berjama’ah). Hanya Allah yang lebih mengetahui yang sebenarnya.

أللّهمّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَِّمْ (10×)
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan atas junjungan kami, Nabi Muhammad saw dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.”(10x)

___________________________

Khalaqoh ke 106 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 01

Ada sebagian umat Islam – yang mengaku-ngaku sebagai pakar – mengkritik secara pedas adanya pembagian bid’ah kepada bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Mereka mengingkari dengan sangat keras setiap orang yang menerima pembagian bid’ah seperti itu. Bahkan, ada diantara mereka yang menuduh fasik dan sesat terhadap setiap orang yang memiliki paham demikian. Menurut mereka, hal itu didasarkan pada sabda Nabi Muhammad Saw: “Setiap bid’ah adalah sesat”. Secara redaksional, hadits tersebut mengisyaratkan keumuman makna bid’ah – bukan hanya bid’ah tertentu – dan dengan tegas mensifati bid’ah sebagai perbuatan yang sesat atau menyesatkan. Oleh karena itu, mereka berani mengatakan: “Apakah dibenarkan atau dapat diterima – setelah sabda Rasulullah Saw – penetap syariat yang menegaskan bahwa setiap bid’ah itu sesat, (lalu) muncul seorang mujtahid atau faqih, setinggi bagaimanapun tingkatannya, berpendapat: “Tidak, tidak! Tidak setiap bid’ah itu sesat, tetapi, sebagiannya ada yang sesat, sedang sebagian lagi bagus. Serta ada juga yang sayyiah atau buruk.
Dengan pendekatan seperti itu, banyak umat islam yang tertipu. Mereka bersama-sama berteriak-teriak menyatakan pendapatnya, dan bersama pengingkar lainnya mengingkari pendapat yang lain. Ternyata kebanyakan mereka itu adalah orang-orang yang tidak memahami tujuan-tujuan atau maksud-maksud ajaran Islam (maqashid al syari’) dan belum merasakan ruhnya.

أللهم إِنِّى أَسْاَلُكَ مِنْ فُجَاءَةِ الْخَيْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فُجَاءَةِ الشَّرِّ.
”Ya Alloh, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan yang tiba-tiba, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang tiba-tiba”

_____________________

Khalaqoh ke 107 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 02

Selang beberapa saat, mereka terpaksa mencari jalan keluar dari berbagai problematika kontradiktif dan bermacam-macam kesulitan yang dihadapinya, untuk memahami realitas yang dilaluinya. Mereka berusaha menemukan suatu penemuan baru atau inovasi beru dengan membuat suatu perantaraan. Tanpa perantaraan atau washilah itu, mereka tidak dapat makan, tidak dapat minum, tidak kuasa mendapatkan tempat tinggal, tidak dapat berpakaian, tidak dapat bernafas, tidak dapat bersuami atau beristri, bahkan tidak dapat berinteraksi dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya, dengan saudara-saudaranya, tidak pula dengan masyarakatnya. Perantaraan yang dimaksud adalah memunculkan suatu definisi baru tentang bid’ah; bahwa “sesungguhnya bid’ah itu terbagi atas bid’ah diniyyah – berkaitan dengan agama – dan bid’ah dunyawiyyah – berurusan dengan urusan-urusan duniawi.
Subhanallah! Maha Suci Allah! Orang “yang suka main-main” ini berani sekali membolehkan dirinya menemukan penemuan baru berupa pembagian semacam itu; atau, paling tidak, menemukan penamaan atau definisi baru mengenai bid’ah. Jika kita menerima bahwa pembagian atau klasifikasi seperti itu sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw – meskipun klasifikasi bid’ah kepada diniyyah dan dunyawiyyah, secara pasti tidak pernah ada pada masa tasri’ – dari mana klasifikasi semacam itu lahir? Dari manakah penanaman baru tersebut timbul?

أللّهمّ أَنْتَ رَبِّى َلآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَـنِى وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْلِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Ya Alloh, Engkau adalah Rabb-ku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakan diriku dan aku adalah hamba-Mu, aku telah berada dalam ikrar dan janji-Mu dengan semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang aku perbuat, aku mengakui semua nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui segala dosa-dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”

_____________

Khalaqoh ke 108 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 03

Kepada siapa saja yang mengatakan bahwa pembagian bid’ah kepada hasanah dan sayyiah itu tidak datang dari syari’ – penetap syariat (Nabi Muhammad Saw), kami tegaskan bahwa pendapat – yang mesti ditolak – yang menegaskan “pembagian bid’ah kepada bid’ah diniyyah – menjadi hasanah dan sayyi’ah – tidak diterima. Sedangkan pembagian bid’ah secara dunyawiyyah dapat diterima” merupakan perbuatan bid’ah dan penemuan baru juga.
Nabi Muhammad Saw menegaskan: “Setiap bid’ah itu sesat – atau kesesatan”. Sabda Nabi Muhammad Saw itu begitu mutlak, tanpa syarat apa-apa. Sementara itu, anda berkata, “Tidak! Setiap bid’ah itu sesat, secara mutlak; tetapi bid’ah itu terbagi atas dua bagian, yaitu bid’ah diniyyah, yang merupaka kesesatan, dan bid’ah dunyawiyyah, bid’ah dalam urusan dunyawi yang dibolehkan.”
Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menjelaskan suatu problema yang sangat penting dalam hubungannya dengan masalah bid’ah ini. Dengan cara ini semoga segala yang musykil dan sulit itu akan terpecahkan, dan keraguanpu akan sirna, insya Allah.

أللّهمّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, مَاشَاءَ الله كَانَ وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, أَعْلَمُ أَنَّ الله عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ , وَأَنَّ الله قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ عِلْمًا.
Ya Alloh, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Tuhan selain Engkau, hanya kepada Engkau-lah aku bertawakal, dan Engkau adalah Rabb Arasy yang agung. Apa yang dikehendaki oleh Alloh swt pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki oleh Alloh swt pasti tidak ada. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Aku mengetahui bahwa Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Alloh –ilmu-Nya-benar-benar meliputi segala sesuatu.

_______________________

Khalaqoh ke 109 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 04

Berkenan dengan masalah tersebut, ketahuilah bahwa yang berbicara mengenai bid’ah itu adalah syari’, penetap syariat, yakni Nabi Muhammad Saw, yang bijaksana. Lidahnya adalah lidah syara’. Maka dipelukan pemahaman terhadap pembicaraannya menurut timbangan syara’ yang dibawahnya. Jika telah anda ketahui bahwa bid’ah menurut definisi asalnya setiap yang baru dan inofasi yang tidak ada contohnya, jangan Anda lupakan bahwa penambahan – yakni penemuan baru yang tercela – dalam konteks (bid’ah) ini adalah adanya penambahan dalam urusan agama supaya menjadi suatu bentuk syariat, sehingga menjadi suatu syariat yang diikuti – oleh umat Islam – dan disandarkan pada pemilik syariat(Nabi Muhammad Saw). yang demikian itulah diperingatkan oleh rasulullah saw untuk dihindari, melalui sabdanya:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Siapa yang menambah-nambah dalam urusan agama kami ini yang bukan darinya, maka perbuatan itu ditolak.

عنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال يوم خيْبر: «لأعطِينَّ هذِهِ الراية رجُلا يُحبُّ اللَّه ورسُوله، يفتَح اللَّه عَلَى يديهِ» قال عمر رضي اللَّهُ عنه: ما أَحببْت الإِمارة إلاَّ يومئذٍ فتساورْتُ لهَا رجَاءَ أَنْ أُدْعى لهَا، فدعا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عليَ بن أبي طالب، رضي اللَّه عنه، فأَعْطَاه إِيَّاها، وقالَ: «امش ولا تلْتَفتْ حتَّى يَفتح اللَّه عليكَ» فَسار عليٌّ شيئاً، ثُمَّ وقف ولم يلْتفتْ، فصرخ: يا رسول اللَّه، على ماذَا أُقاتل النَّاس؟ قال: «قاتلْهُمْ حتَّى يشْهدوا أَنْ لا إله إلاَّ اللَّه، وأَنَّ مُحمَّداً رسول اللَّه، فَإِذا فعلوا ذلك فقدْ منعوا منْك دماءَهُمْ وأَموالهُمْ إلاَّ بحَقِّها، وحِسابُهُمْ على اللَّهِ» رواه مسلم  
Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar: “Nescayalah bendera ini akan kuberikan kepada seseorang lelaki yang mencintai Allah dan RasulNya, Allah akan membebaskan – beberapa benteng musuh – atas kedua tangannya.” Umar r.a. berkata: “Saya tidak menginginkan keimarahan -kepemimpinan di medan perang – melainkan pada hari itu belaka kemudian saya bersikap untuk menonjolkan diri pada Nabi s.a.w. dengan harapan agar saya dipanggil untuk memegang bendera itu. Tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil Ali bin Abu Thalib r.a., lalu memberikan bendera tadi padanya dan beliau s.a.w. bersabda: “Berjalanlah dan jangan menoleh-noleh lagi sehingga Allah akan membebaskan – benteng-benteng musuh – atasmu.” Ali berjalan beberapa langkah kemudian berhenti dan tidak menoleh, kemudian berteriak: “Ya Rasulullah, atas dasar apakah saya akan memerangi para manusia?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Perangilah mereka sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah. Apabila orang itu telah berbuat demikian, maka tercegahlah mereka itu daripadamu, baik darah dan harta mereka, melainkan dengan haknya, sedang hisab mereka itu adalah tergantung pada Allah.”  (Riwayat Muslim)

_____________________

Khalaqoh ke 110 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 05

Jadi batasan intinya – dalam konteks bid’ah – itu adalah fiiamrinaa haadzaa, “dalam urusan agama kami ini”. Atas dasar itu, sebetulnya pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyia’h itu – dalam pemahaman kami – hanyalah pembagian bid’ah secara etimologis atau lughawiy. Ia sebetulnya hanya sekedar penemuan dan penambahan yang baru (ikhtira’ dan ihdats). Kita tidak ragu bahwa bid’ah dalam pengertian syara’ adalah sesuatu yang menyesatkan dan fitnah yang tercela, ditolak, dan dimurkai. Kalau saja mereka – yang mengingkari pendapat kami – dapat memahami makna seperti ini, akan jelaslah bagi mereka adanya titik temu pengompromian berbagai pendapat, sedangkan unsur-unsur pertentangan tampak begitu jauh.
Dan untuk lebih mendekatkan berbagai pendapat, saya berpandangan bahwa sesungguhnya orang yang mengingkari adanya pembagian atau klasifikasi bid’ah itu, hanya mengingkari pembagian bid’ah syar’iyyah, dengan alasan, mereka membagi bid’ah menjadi bid’ah diniyyah dan bid’ah dunyawiyyah. Mereka bahkan memandang pembagian tersebut sebagai sesuatu yang terpaksa harus mereka akui dan lakukan.

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه. قال قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «إِنَّ اللَّه تعالى قال: منْ عادى لي وليًّاً. فقدْ آذنتهُ بالْحرْب. وما تقرَّبَ إِلَيَ عبْدِي بِشْيءٍ أَحبَّ إِلَيَ مِمَّا افْتَرَضْت عليْهِ: وما يَزالُ عبدي يتقرَّبُ إِلى بالنَّوافِل حَتَّى أُحِبَّه، فَإِذا أَحبَبْتُه كُنْتُ سمعهُ الَّذي يسْمعُ به، وبَصره الذي يُبصِرُ بِهِ، ويدَهُ التي يَبْطِش بِهَا، ورِجلَهُ التي يمْشِي بها، وَإِنْ سأَلنِي أَعْطيْتَه، ولَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَّنه» رواه البخاري
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi : “Barangsiapa memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahawa ia akan Ku perangi – Ku musuhi. Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku lah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku lah matanya yang ia gunakan untuk melihat, Aku lah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Aku lah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia meminta sesuatu pada Ku, pastilah Ku beri dan andaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Ku lindungi.” (Riwayat Bukhari)

_______________________

Khalaqoh ke 111 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 06

Sementara itu orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah berpendapat bahwa pembagian itu hanya berdasarkan pertimbangan bid’ah secara etimologis atau kebahasaan, karena mereka mengatakan: “Sesungguhnya penambahan – suatu ibadah – dalam agama dan syariat Islam itu merupaka kesesatan dan dosa besar.” Mereka meyakini hal itu. Dengan demikian, perbedaan yang terjadi antar umat islam berkenaan dengan problematika bid’ah itu hanya dalam wujud syakl atau bentuk. Namun, saudara-saudara kita yang mengingkari pembagian bid’ah kepada hasanah dan sayyi’ah, lalu mengatakan bahwa bid’ah terbagi kepada diniyyah dan dunyawiyyah itu tidak cermat dan tidak teliti dalam mengungkapkan apa yang mereka pahami dan yakini. Ketika mereka menetapkan bahwa bid’ah dalam urusan agama itu menyesatkan – dan itu jelas benarnya – lalu mereka berkeyakinan, bahkan menetapkan, bahwa bid’ah dalam urusan dunyawi tidak apa-apa, sebetulnya mereka telah melakukan kesalahan dalam menetapkan hukum. Sebab, dengan definisi atau klasifikasi mengenai bid’ah yang mereka kemukakan itu berarti setiap bid’ah – atau hal-hal baru – dalam urusan duniawi itu (pasti) dibolehkan. Tentu saja hal itu sangat membahayakan. Perkataan itu jelas mengandung fitnah dan bencana atau musibah besar. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti itu, diperlukan adanya rincian yang jelas mengenai problematika perbid’ahan itu. Hendaklah mereka mengatakan: “Bahwa bid’ah dunyawiyah itu ada yang baik dan ada pula yang buruk – sebagaimana kita saksikan secara nyata – yang tidak akan diingkari oleh siapapun kecuali oleh oarng yang sangat buta dan bodoh.”

عن أَنس رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فيمَا يرْوِيهِ عنْ ربهِ عزَّ وجَلَّ قال: «إِذَا تقرب الْعبْدُ إِليَّ شِبْراً تَقرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِراعاً، وإِذَا تقرَّب إِلَيَّ ذراعاً تقرَّبْتُ منه باعاً، وإِذا أَتانِي يَمْشِي أَتيْتُهُ هرْوَلَة» رواه البخاري.
Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Tuhannya ‘Azzawajalla, firmanNya – ini juga Hadis Qudsi :”Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

______________

Khalaqoh ke 112 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 5
SEPUTAR BID’AH

PERLU PEMBEDAAN ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH & BID’AH ETIMOLOGIS 07

Penambahan penjelasan semacam itu tampaknya sangat perlu diperlukan. Untuk memenuhi pamahaman seperti itu, agaklah cukuplah mengikuti pendapat orang yang mengatakan: “Bid’ah itu terbagi kepada hasanah dan sayyi’ah.” Dan, seperti diketahui bersama, pembagian itu hanya dari sisi kebahasaan atau lughawiyyah (etimologis) belaka; atau yang menurut mereka yang mengingkarinya di yakini sebagai bid’ah dunyawiyyah. Agaknya, seperti itulah pendapat yang sangat hati-hati dan benar. Pendapat (terakhir) ini menghendaki sikap hati-hati dalam mengapresiasi dan merespons setiap urusan (duniawi) yang baru, juga menyelaraskannya dengan hukum syariat Islam dan kaidah-kaidah agama. Pendapat itu juga mengharuskan umat Islam menyesuaikan dan menimbang setiap hal duniawi yang baru – baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus – dengan syariat Islam. Dengan cara demikian, akan terlihat dengan jelas bagaimana peran hukum Islam berkenaan dengan hal-hal duniawi yang baru tersebut – betapapun karakteristik bid’ahnya. Makna dan pemahaman bid’ah yang seperti itu tidak dapat terpenuhi kecuali melalui pembagian atau klasifikasi yang bagus dan dapat dipertanggung jawabkan dari para ulama’ ushul (figh). Semoga Allah Swt melimpahkan keridhoan-Nya kepada ulama ushul fiqh yang telah merumuskan dan menuliskan kata-kata yang valid, shahih, yang komprehensif atau sempurna, dan memenuhi tuntunan makna yang benar, tanpa ada kekurangan dan penyimpangan, serta tanpa takwil.

عن عائشة رضي اللَّه عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَان يقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حتَّى تتَفطَرَ قَدمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ، لِمْ تصنعُ هذا يا رسولَ اللَّهِ، وقدْ غفَرَ اللَّه لَكَ مَا تقدَّمَ مِنْ ذَنبِكَ وما تأخَّرَ؟ قال: «أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟» متفقٌ عليه.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahawasanya Rasulullah s.a.w. berdiri untuk beribadat dari sebahagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: “Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang kemudian?”Rasulullah s.a.w. bersabda:”Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?” (Muttafaq ‘alaih)

____________

Khalaqoh ke 113 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 01

Banyak umat manusia yang tidak mengetahui madzhab Asy’ariyyah. Mereka juga tidak mengetahui tokoh-tokohnya, apalagi mengenal tarikat atau jalan pemikiran dan pemahaman mereka tentang masalah akidah. Sebagian umat islam, meskipun tidak memiiki pengetahuan tentang Madzhab Asy’ariyyah, berani menuduh kaum Asy’ariyyah sebagai kelompok yang sesat dan menyimpang dari ajaran agama yang benar, serta kufur terhadap sifat-sifat Allah Swt.
Kebodohan tentang Madzhab Asy’ariyyah itu menyebabkan pecahnya persatuan umat Islam umat penganut Ahlu Sunnah dan pembelah madzhab Asy’ariyyah. Sebagian mereka – yang mengingkari madzhab tersebut – mengelompokkannya kedalam golongan yang sesat. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin ahli iman – atau mukmin – dapat digabungkan dengan orang-orang sesat? Bagaimana mungkin penganut Ahlu Sunnah dapat disamakan dengan penganut Mu’tazilah yang extrim, yaitu Jahmiyyah? Dalam konteks ini, Allah Swt berfirman: “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam ini sama seperti orang-orang yang berdosa(kafir)”. (QS. Al Qalam [68] : 35)

_____________

Khalaqoh ke 114 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 02

Al Asy’ariyyah adalah para imam dan tokoh agama atau ulama yang ilmunya telah menyebar luas ke berbagai pelosok dunia, baik kebelahan dunia begian barat maupun bagian timur. Keutamaan, ilmu, dan kesalehan mereka dalam mengamalkan agama telah diakui. Mereka adalah pentolan Ulama’ Ahlu Sunnah. Tokoh ulamanya yang mulia, dengan gigih melawan kepongahan dan kesombongan kaum Mu’tazilah, kaum Rasionalis.
Mereka adalah para ulama’ besar yang mendapat pujian dan sanjungan dari Syekh Ibnu Taymiyyah: “Para ulama’ adalah pahlawan penolong ilmu-ilmu agama. Sedangkan tokoh Asy’ariyyah adalah pahlawan pembela ilmu ushuluddin, ilmu tauhid.” (Al Fatawy IV)

اللهم إِنِّى أَسْاَلُكُ خَيْرَ هَذَا الْيَوْم فَتْحَهُ وَنُصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُدَاهُ.
sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, yaitu kemenangan, pertolongan, nur , barokah dan petunjuknya.

_____________

Khalaqoh ke 115 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 03

Ulama’ Asy’ariyyah adalah kelompok ulama’ ahli fikih, ahli hadits dan ahli tafsir. Mereka termasuk ulama’-ulama’ besar yang menjadi panutan dan sandaran para ulama’ lainnya. Adapun diantara ulama’ Asy’ariyyah itu adalah sebagai berikut:
Syekh Ahmad Ibnu Hajar Al Asqalani. Tanpa diragukan lagi, dialah guru para ahli hadits, penulis kitabFath Al Bary ‘ala Syarh Al Bukhari. Karyanya senantiasa menjadi rujukan para ulama’.
Syekh Imam Nawawi, Ulama’ Ahlu Sunnah yang menulis kitab Syarah Muslim dan penulis berbagai kitab terkenal diseluruh dunia. Ia bemadzhab Asy’ariyyah.
Imam Qurthubhi, Syaikhul Mufassirin, tokoh dan guru para ahli tafsir. Dialah yang menulis tafsir Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an. Beliau juga bermadzhab Asy’ariyyah.
Syaikhul Islam, Ibnu Hajar Al Haitami, penulis kitab Al Zawajir Al Iqtiraf Al Kabair, “Larangan untuk Melakukan Perbuatan Dosa Besar”. Dia juga tokoh Madzhab Asy’ariyyah.
Al Imam Al Hujjah Al Tsabt Syaikh Zakariyah Al Anshary, seorang tokoh serta pakar fikih dan hadits (Syaikhul fiqh wa al hadits).
Selain mereka, Al Imam Abu Bakar Al Baqillany, Al Imam Al Asqilany, Imam Al Nasafy, Imam Syarbini, Abu Hayan Al Nahwi – ahli nahwu/tata bahasa arab – penulis tafsir Al Bahr Al Muhith, Imam Ibnu Jazy – penulis At Tashil fi ‘Ulum Al Tanzil, juga termasuk para imam dan pakar dikalangan Madzhab Asy’ariyyah.

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «المُؤمِن الْقَوِيُّ خيرٌ وَأَحبُّ إِلى اللَّهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وفي كُلٍّ خيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا ينْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وإنْ أصابَك شيءٌ فلاَ تقلْ: لَوْ أَنِّي فَعلْتُ كانَ كَذَا وَكذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قدَّرَ اللَّهُ، ومَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان». رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:”Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperolehi kebaikan.Berlumbalah untuk memperolehi apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: “Andaikata saya mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.” Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya,” sebab sesungguhnya ucapan “andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan.” (Riwayat Muslim)

________________

Khalaqoh ke 116 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 04

Sebenarnya masih banyak ulama’ besar lainnya – baik yang menjadi pakar dalam bidang tafsir, fikih maupun ilmu hadits – yang termasuk pentolan Madzhab Asy’ariyyah. Tetapi, karena keterbatasan ruangan, saya tidak menyebutkan disini. Pembahasan yang lengkapa tentu memerlukan berjilid-jilid buku untuk mengungkap para ulama’ besar yang ilmunuya telah memenuhi dunia, baik Barat maupun timur itu.
Seseungguhnya yang menjadi kewajiban umat Islam adalah mengembalikan keutamaan kepada para ahlinya, para ahli ilmu dan keutamaan yang telah berkhidmat kepada Islam yang diwariskan oleh Junjungan kita, Nabi Muhammad Saw. Lalu, kebaikan apakah yang kita harapkan jika kita menuduh para ulama besar yang sangat berjasa serta ulama salaf kita itu dengan tuduhan “Penyimpangan dan kesesatan”? Bagaimana mungkin Allah Swt akan berkenan membukakkan hati kita untuk mengambil faedah dari ilmu mereka jika kita berkeyakinan bahwa mereka itu menyimpang dari ajaran Islam yang benar?.

سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ, سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الاَرْضِ, سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ, سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ .
“SUBHANALLAH, sebanyak hitungan makhluk di langit. SUBHANALLAH, sebanyak hitungan makhluk di bumi. SUBHANALLAH, sebanyak hitungan makhluk antara langit dan bumi. SUBHANALLAH, sebanyak hitungan makhluk yang Dia ciptakan.”

________________

Khalaqoh ke 117 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 05

Sesungguhnya saya igin mengatakan: “Adakah ulama’ sekarang, yang mencapai gelar doktor, atau siapapun yang jenius, mampu melakukan apa yang dilakukan Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Asqalany, dan Imam Nawawi? Kedua ulama besar ini – semoga rahmat dan keridhaan Allah terlimpah kepada keduanya – telah berkhidmat begitu banyak kepada Sunnah Nabi Muhammad Saw. Bagaimana mungkin kita akan menuduh keduanya – dan ulama Madzhab Asy’ariyyah lainnya – menyimpang dari ajaran Islam dan telah tersesat? Bukankah kita sangat memerlukan ilmu mereka?
Bagaimana kita dapat menimbah ilmu dari (karya) mereka jika mereka itu – sebagaimana penilaian sebagian orang – dalam kesesatan? Imam Zuhari pernah berkata, “Sesungguhnyailmu (tentang Islam) itu merupakan din (ajaran) agama”. Maka perhatikanlah, dari siapa kamu mengambil agamamu itu.”
Tidak cukup bagi para penentang itu mengatakan, umpamanya: “Seseungguhnya para ulama Asy’ariyyah itu telah melakukan Ijtihad (upaya memahami ajaran Islam), tetapi mereka salah menakwil sifat-sifat Allah Swt.” Yang lebih utama adalah tidak mengikuti jalan yang seperti – saya tunjukkan – ini sekalipun. Namun, itu lebih baik daripada kita menuduh mereka sebagi orang-orang yang sesat, lalu kita marah kepada orang yang menganggap para ulama besar itu sebagai Alhlu Sunnah Wal Jama’ah.

عنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «حُجِبتِ النَّارُ بِالشَّهَواتِ، وحُجِبتْ الْجَنَّةُ بَالمكَارِهِ» متفقٌ عليه.
Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya RasuluHah s.a.w. bersabda: Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan – keinginan -dan ditutupilah syurga itu dengan berbagai hal yang tidak disenangi.”

_________________

Khalaqoh ke 118 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 06

Jika para ulama besar – seperti imam Nawawi, Imam Al Qurtubhi, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Baqillani, Al Fakhrurrazi, Al haytami, dan Zakariya Al Anshari – serta ulama terkenal, pakar dalam berbagai disiplin ilmu Islam, dan guru para ulama’ modern itu bukan Ulama’ Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, lalu siapakah ulama’ Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang sebenarnya?
Sesungguhnya saya – dengan penuh keihlasan – mengajak semua da’i, muballig, dan siapa saja yang bergelut dalam dakwah Islam, untuk bertaqwa kepada Allah dalam hal menghadapi dan menilai umat Nabi Muhammad Saw, apalagi berkenaan dengan para ulama besar dan para fuqaha pilihannya. Bagaimanapun, umat Nabi Muhammad Saw itu akan selalu baik sampai hari kiamat. Tetapi, kita tidak akan mendapatkan kebaikan jika kita tidak menghargai para ulama’ dan tidak memuliakan mereka (lihat karya Syaikhuna Allamah Syekh Muhammad Ali Sahbuni mengenai Madzhab Asy’ariyyah dalam pembahasan yang panjang lebar dan sangat bagus).

عن أنس رضي اللَّه عنه عن رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «يتْبعُ الميْتَ ثلاثَةٌ: أهلُهُ ومالُه وعمَلُه، فيرْجِع اثنانِ ويبْقَى واحِدٌ: يرجعُ أهلُهُ ومالُهُ، ويبقَى عملُهُ» متفقٌ عليه.
Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Mengikuti kepada seseorang mayit itu tiga hal, iaitu keluarganya, hartanya serta amalnya. Kemudian kembalilah yang dua macam dan tertinggallah yang satu. Kembalilah keluarga serta hartanya dan tertinggallah amalnya.” (Muttafaq ‘alaih)

_______________________

Khalaqoh ke 118 dari terjemah kitab
MAFAHIM YAJIBU AN TUSOHHAH
Karangan
ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI
Imam Ahlus sunnah wal jama’ah abad ke 21

BAB 6
TENTANG MADZHAB ASY’ARIYYAH

HAKIKAT MADZHAB ASY’ARIYYAH 07

Terjadi polemik yang sengit diantara para ulama mengenai berbagai masalah akidah, yang sebetulnya Allah Swt tidak membebani kita untuk membahasnya. Saya bahkan berpendapat, justru polemik para ulama itu hanya akan melenyapkan kesakralan dan keagungan masalah-masalh tersebut. Masalah-masalah yang diperdebatkan itu antara lain seperti perbedaan para ulama’ mengenai apakah Nabi Muhammad Saw melihat Allah dengan hatinya atau dengan kedua matanya.
Polemik diantara para ulama’ itu begitu seru, bahkan tidak jarang menimbulkan permusuhan diantara mereka. Ada ulama’ yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw melihat Allah Swt – seperti ketika ber Mi’raj – dengan hatinya. Sementara ulama’ lain berpendapat, Nabi Muhammad Saw melihat-Nya dengan kedua matanya. Masing-masing tentu menggunakan berbagai dalil dan bermacam-macam argumentasi yang dapat menguatkan pendapatnya.

عن أبي عبد اللَّه ويُقَالُ: أبُو عبْدِ الرَّحمنِ ثَوْبانَ موْلى رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: سمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: عليكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ، فإِنَّك لَنْ تَسْجُد للَّهِ سجْدةً إلاَّ رفَعكَ اللَّهُ بِهَا درجةً، وحطَّ عنْكَ بِهَا خَطِيئَةً» رواه مسلم.
Dari Abu Abdillah, juga dikatakan dengan nama Abu Abdir Rahman iaitu Tsauban, hamba sahaya Rasulullah s.a.w. r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hendaklah engkau memperbanyak bersujud, sebab sesungguhnya engkau tidaklah bersujud kepada Allah sekali sujud. melainkan dengannya itu Allah mengangkatmu sedarjat dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan dari dirimu.” (Riwayat Muslim)

__________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s