Jalan Keluar dari Masalah

Dalam perjalanan hidup, lazimnya  setiap orang pasti menemukan masalah, baik yang bersumber dari dirinya sendiri maupun dari luar. Sadar atau enggak,  sejak kita lahir sampai akhir hayat, ia akan terus berdampingan dengan kita. Bener nggak ?. Saya pernah mendengar orang bijak mengatakan bahwa, sesungguhnya masalah itu memberikan kekuatan dan pembelajaran pada kita untuk melangkah lebih lanjut.

Hanya saja, masalah seringkali hanya dikaitkan dengan hal-hal besar yang kita merasa tidak mampu menyeimbangkan antara harapan, keinginan dengan kenyataan. Dan tidak sedikit dari kita yang justru berlepas diri dari masalah dengan melakukan hal-hal diluar kewajaran. Berlari dari masalah, sebenarnya menciptakan masalah yang baru

Curhatan

Saya nulis tentang masalah, karena tempo hari mendapatkan curhatan dari temannya saudara saya. Ketika pada kesempatan ngobrol dalam silaturahim, tiba-tiba saya dimintai pendapat tentang masalah yang dihadapinya. Ini dilakukan karena ia sudah merasa buntu atas jalan keluar yang diharapkan. Konflik rumah tangga yang berbuntut pada perceraian, namun masih menyisakah banyak permasalahan antara keduanya. Berbagai upaya telah dilakukan, yang pada akhirnya membuat ia merasakan kebuntuan dan kesumpekan hidup.

Sebut saja Fulan. Hampir 30 menit Ia menceritakan perjalanan panjang kehidupan rumah tangganya, yang menurutnya dipenuhi dengan berbagai konflik. Peristiwa ini, peristiwa itu, cerita begini, cerita begitu. Saya hanya mendengarkan semua kronologisnya, tanpa menyela sedikitpun. Pada akhir cerita,

“gimana mas menurut pendapat sampean agar beban hidup saya berkurang dan ada jalan keluar yang lebih baik”. Dalam hitungan detik, pikiran saya agak tersentak atas ‘cerita masalah’ yang dibeberkan secara gamblang. Nggak usah saya jelaskan disini dah, soalnya ini masalah pribadi orang lain. tul kan?

“Wah, apa ya bisa saya ngasih jalan keluar. lha wong saya sendiri juga menghadapi masalah yang masih harus saya upayakan jalan keluarnya” saya mencoba berkilah agar nggak terlalu berharap atas pendapat saya. Lha wong pemikiran saya akan hal-hal semacam yang diharapkan, masih sangat sederhana.

“Nggak gitu mas, soalnya saya perhatikan selama ini, sampean seolah nggak pernah menemukan masalah. Wajah sampean selalu sumringah” sekali lagi beliau memberikan alasan kenapa minta pendapat saya. Dalam hati, waduh kenapa harus saya sihhh. Akhirnya sebelum saya ngomong, saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan mungkin belum sesuai yang diharapkan.

“Bisa jadi sampean melihat saya senyam-senyum dan wajah ceria namun sebenarnya dibalik itu semua saya telah memikul beban yang sangat berat. Apa yang saya alami belum tentu sampean kuat menanggungnnya demikian juga yang sampean rasakan, belum tentu saya bisa bisa menghadapinya. Namun perlu kita catat bahwa masalah yang kita alami sesuai dengan kadar kemampuan kita. Alloh Ta’ala Maha Tahu atas kemampuan kita” Itulah penggalan kalimat awal yang saya sampaikan.

“Aku sudah melakukan sholat ini dan itu dan berdo’a dengan segala cara agar masalah ini menjadi hilang, tapi tetap saja jalan keluarnya belum saya temui. Saya sampai merasa, semakin saya mendekat soalah masalah itu semakin menjauh penyelesaiannya” Dada saya agak bergetar ketika Fulan menyebut sholat dan do’a yang telah dia tempuh tapi justru mendatangkan keputus asaan bagi dirinya. Maka inilah yang harus saya luruskan. Inilah pendapat saya yang harus saya sampaikan. Karena saya sangat sedih ketika ada orang yang berpikiran seperti itu. Apalagi putus asa, gampang berkeluh kesah adalah jalan yang paling disukai syetan dan bolo-bolonya.

“Mungkin kita perlu mengoreksi cara pendekatan kita dalam menghadapi masalah” sekali lagi saya memancing dengan sebuah langkah sederhana

“Maksudnya ?” raut muka Fulan semakin penasaran

“Kalo sampean tadi sudah melakukan sholat ini dan itu.  Sudah benarkah cara shalat dan do’a yang kita panjatkan ?

“Ya sudah, lha wong saya kalo tahajud sampai menangis memohon pertolongan dan itupun sering saya lakukan”

“Baiklah, kalo sampean minta pendapat saya, mari kita benahi shalat kita dengan benar. Maksud saya, kita mulai dari cara kita mendekatkan diri terlebih dahulu, jangan langsung mengharap pada hasil kalo cara yang kita lakukan kurang disertai kesabaran. Umumnya, kita merasa sangat dekat pada Alloh hanya ketika kita dilanda masalah. Berhari-hari shalat ini dan itu dan harapan kita semua segera terkabul permohonan kita. Itulah manusia, yang bersifat tergesa-gesa dalam beberapa hal”

“Iya sih …” jawabnya lirih

“Shalat itu pada dasarnya di dalamnya sudah terkandung do’a yang sangat komplit bagaimana kita menjalankan hidup ini. Benar nggak ?” saya memancing

“Belum paham, karena saya pikir do’a setelah shalatlah yang bisa kita panjatkan untuk mencapai segala harapan kita”

Maka sayapun mencoba menjelaskan hubungan antara shalat, hidayah, kelapangan dada, rejeki dan jalan keluar atas segala permasalahan. Uraian penjelasan ini saya buatkan sebuah cerita pada postingan sebelumnya. Yang belum membaca, silahkan baca Mencari Surga dalam Sholat. Intinya, saya menawarkan pemecahan masalah hanya dengan sabar dan sholat. Bukankah Al Qur’an mengajarkan demikian pada kita. Minta tolonglah dengan sabar dan shalat (QS 2:153).

Sabar dan Shalat

Permasalahannya, gimana kita bisa merasakan makna sholat itu sebagai jalan keluar atas ujian yang kita hadapi. Sebagaimana yang saya tulis sebelumnya, langkah yang harus kita tempuh adalah dengan sholat dengan benar sebagaimana yang dicontohkan Rasululloh saw.

Kita benahi terlebih dahulu niat kita, beribada semata mencari ridho Alloh Ta’ala
Kita benahi terlebih dahulu gerakan-gerakan shalat dengan baik dan benar, sehingga kita merasakan nyaman ketika sholat
Kita benahi bacaan yang kita lafatkan dengan baik dan benar
Kita berusaha dengan maksimal tahu yang kita baca selama shalat. Paling tidak, tahu artinya. Memadukan lafat yang benar dengan arti yang kita baca, Insya Alloh akan memberikan makna dan membawa kita pada kekhusyu’an sholat.
Menjalankan shalat lima waktu tepat waktu. Terkecuali karena terbentuk keadaan yang sangat memaksa karena kondisi dan situasi, namun setelah selesai segera menyempurnakan shalat yang belum terjalani. Tepat waktu bagi yang laki-laki wajib berjamaan di masjid, sedangkan wanita di rumah lebih baik.
Mungkin sebagian dari kita pesimis bisa melakukan hal di atas. Namun jika kita lakukan dari hal-hal yang paling ringan terlebih dahulu, Insya Alloh kelanjutannya akan lebih mudah menjalankan.

Perpaduan antara shalat yang baik menurut syar’i disertai kekhusyukan, dan dijalankan tepat waktu, Insya Alloh membuat kita akan semakin mencintai shalat. Jika shalat lima waktu kita lakukan dengan baik, kita menambahkan dengan shalat rawatib yang mengiringi shalat wajib. Kondisi ini bisa jadi akan mengubah pemikiran kita tentang shalat, dari sekedar menggugurkan kewajiban menuju sebuah kebutuhan. Kitalah yang sesungguhnya butuh pada Alloh. Butuh sebagai hamba yang ingin merasakan lezatnya mencintai khaliqnya. Selanjutnya tidak hanya shalat wajib saja yang terasa nikmat, kita akan kecanduan merasakan surga dalam shalat, maka dengan mudah kita menegakkan shalat malam, melakukan tahajjud bukan perkara berat lagi. Melakukan shalat dhuha buka males lagi. Semua semata-mata mengharap ridho Alloh karna niat ini terlahir dari sebuah proses kesabaran.

Semangat mencari ridha Alloh melalui shalat, maka Insya Alloh dada kita akan terisi kenikmatan surgawi. Alloh melimpahkan ketenangan, sakinah. Kita punya masalah dengan sesama manusia, adalah hal yang wajar. dan dengan limpahan ketenangan yang mengalir ke dalam dada kita, maka terasalah sebuah kelapangan dada.

Imbas dari kelapangan inilah yang akan membentuk sikap tawakkal, dengan hanya menyandarkan semua keadaan pada Alloh Ta’ala, tiak pada yang lain. Betapa indahnya, jika beban hidup yang semula terasa berat menjadi tercabut ato paling tidak diringankan dalam bentuk ketenangan diri. Lalu apa ujungnya, kepasrahan yang sangat indah inilah menjadi buah dari ketaqwaan yang terbangun dari keitiqomahan diri.  Pada akhirnya, kita tidak akan pernah menyangka setelah proses kesabaran, akan banyak jalan keluar yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Sebagaimana janji Alloh dalam QS 65 :2-3.

Ketenangan batin adalah rejeki, materi adalah rejeki, terpecahnya masalah adalah rejeki, sehat adalah rejeki dan kebaikan-kebaikan yang semua tidak pernah kita pikirkan. Ia seringkali bergeraj di luar jangkauan kita.  Semua rejeki adalah hak mutlak Alloh Ta’ala, yang tidak bisa dikalkulasikan dengan nalar manusia.

Itulah penjelasan yang bisa saya berikan pada Fulan, bagaimana kita sebagai seorang muslim menyikapi masalah. Yang jelas, hampir setiap manusia memiliki masalah yang kadarnya sudah disesuaikan dengan kemampuan yang bersangkutan. Apakah dengan masalah yang kita hadapi akan menjadikan kita semakin dekat pada jalan Alloh Ta’ala atau justru kita menjauhi jalan kebenaran menuju jalan yang tidak seharusnya kita lalui, yaitu jalan syetan laknatullah. Kitalah yang memilih.

Wallohu’alam bish showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s