Saatnya Santri Menggenggam Dunia “Refleksi Pen-caleg-an Gus Muh”

Ketika disebut kata Santri, hal yang pertama kali terbetik di pikiran kita adalah sesosok yang selalu bersarung, berkopiyah, serta membawa kitab kuning kemana-mana. Persepsi yang seperti itu tidak bisa disalahkan. Ia bagaikan label yang terus melekat pada santri. Namun seiring berjalannya zaman, pemaknaan santri sudah tidak relevan lagi disebut begitu. Santri bukan lagi sosok yang hanya bisa diandalkan dalam urusan diniyah; memimpin do’a, mengaji, imam masjid, dan urusan-urusan agama lainnya. Santri sudah mengenal yang namanya dunia luar. Santri sudah paham menggunakan teknologi modern. Lebih dari itu, kini santri dipersiapkan oleh pesantren-pesantren untuk menjadi kader-kader bangsa. Santri dituntut untuk bisa menjadi penyelamat negeri ini dari berbagai macam masalah yang sedang mengancam. Baik dari segi moral, ekonomi, dan politik.
Melalui wadah Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HAMAM) kita di tuntut untuk bisa berbuat lebih banyak lagi untuk mengabdikan diri kita kepada bangsa dan negara, H.Agus Muhammad Ma’ruf,MA adalah sosok Santri yang juga Putra Beliau Romo KH. Masbuhin Faqih Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik sosok yang mampu untuk bisa mengubah masa depan bangsa Indonesia. Sudah saatnya santri mengambil alih kepemimpinan dengan keariafan dan kebijaksanaan. Sudah saatnya santri menjadi pelopor penggerak roda perekonomian. Sudah saatnya santri menggenggam dunia.
Jikalau kita selalu up to date terhadap berita-berita, baik di media cetak maupun elektronik, maka pembahasannya tidak akan jauh dari seputar korupsi, narkoba, dan kriminalitas lainnya. Dan yang luar biasanya, korupsi menjadi permasalahan nomor wahid di negara tercinta ini, Indonesia.
Melihat realita yang seperti ini, timbul pertanyaan besar: lantas siapa yang pantas memimpin negeri yang sebenarnya makmur ini? SANTRI. Itulah jawaban yang penulis rasa paling cocok. Selain telah dibekali dengan ilmu agama yang mumpuni, semenjak awalnya santri telahditanamkan karakter-karakter yang kuat. Karakter sebagai pemimpin yang bijaksana pengayom yang adil, selalu terpatri dalam jiwa santri. Sehingga ketikaterjun di masyarakat, santri dituntut untuk bisa menjadi pemimpin.
Berbicara tentang pemimpin negeri, pasti ada kaitannnya dengan politik. Apa boleh santri terjun dalam dunia politik? Tentu saja boleh. Namun bukan politik yang selama ini dikenal masyarakat sebagai pengobral janji, penipu dan serakah akan jabatan, melainkan politikyang bersih, jujur dan adil. Bukankah Nabi Muhammad selain utusan Allah, beliau juga sebagai kepala negara di Madinah. Dan yang harus kita ketahui bahwa Nabiadalah seorang yang handal dalam berpolitik. Bukan hanya Nabi, para Khulafaur Rasyidin juga pakar dalam dunia perpolitikan. Untuk itu, sudah saatnya santri terjun ke dalam dunia politik, mengambil alih kepemimpinan dari tangan-tangan keserakahan, serta mengarahkannya ke baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s