Merefleksikan Diri

Hampir tiap hari kita bekerja. Tiap hari pula kita ikhtiar. Mengapa? Karena di luar sana, hidup terlalu kompetitif. Ketat katanya. Jadwal jadi penuh. Rileks tidak ada kamusnya. Hampir tiap hentakan menit, aktivitas kita seakan tidak pernah berhenti. Hari ini atau esok hari, kita akan terus melaju semakin kencang. Hampir tak ada waktu lagi untuk “berhenti sejenak”. Karena “pertandingan hidup” terus bergulir dan hampir dipastikan tidak akan ada finalnya. Jadi, apa yang hendak mau dikata ?
Dulu, saat kita kecil dulu, orang tua kita sering berucap “Nak, berhentilah sejenak dan istirahatlah”. Sepintas, kalimat itu memang sederhana. Tapi di tengah hiruk pikuk kehidupan, hingar-bingar kita untuk alasan papun, kalimat itu menjadi penting untuk “direnungi”. Ya, “berhenti sejenak”, kita diminta untuk meluangkan waktu merefleksi diri, self reflection. Entah, refleksi diri untuk apa saja,sedikit merenung tentang apa yang kita sudah jalani selama ini.
REFLEKSI DIRI, inilah akhlak yang sering terlupakan. Refleksi diri tidak hanya untuk mengevaluasi apa yang telah kita kerjakan. Refleksi diri menjadi bagian untuk menjadikan “hidup kita lebih hidup”. Hidup di sisa usia kita yang seharusnya makin berkualitas dan bermakna. Refleksi diri adalah momentum, saat yang harus diambil karena ia tidak selalu datang setiap saat. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam REFLEKSI DIRI? Sungguh sederhana saja, kita cukup melakukan 3 T Tanpa 1 T atau Tafakur, Tadabur, Tasyakur tanpa Takabur.
1.Tafakur. Ini momentum bagi kita untukinstropeksi diri, merenung akan apa yang sudah dan belum kita lakukan? Untuk apa kita ada? Hal ini dilakukan agar hidup kita menjadi lebih berkualitas di sisa waktunya. Kita bicara dengan hati kita sendiri hingga mampu mendengarkan suara-suara hati kita sendiri dan suaraAllah SWT. Dengan tafakur, kita dapat mengubah pola pikir dalam menjalani kehidupan di dunia yang sementara ini.
2.Tadabur. Ini momentum kita untuk memaknakan hidup secaralebih dalam dengan bantuan alam semesta. Alam dan isinya adalah pembelajaran bagi kita. Bersediakah kita belajar pada alam dan bukan hanya menikmatinya. Mengapa ada malam dan mau apa kita di dalamnya? Tadabur mengajak kitamendengarkan nasihat dari alam. Sungguh alam di sekitar kita diciptakan tanpa sia-sia karena ada banyak pelajaran di dalamnya. Melalui alam, kita belajar mendengar dengan hati juga pikiran.
3.Tasyakur. Ini momentumekspresi diri atas anugerah yang kita terima dari Allah SWT. Setelah Tafakur dan Tadabur, sungguh kita mampu melahirkan rasa syukur yang tinggi. Bersyukur atas apa yang kita miliki sehingga menjadi berkah dalam hidup. Bersyukur artinya tidak hanya mengucap “syukur-alhamdulillah” tetapi diikuti kesediaan untuk merealisasikan dalam perilaku nyata; berbagi pada sesama, peduli pada anak-anak yatim, dan sejenisnya. Inilah fitrah kita sebagai hamba-Nya yang bersyukur.
4.Tanpa Takabur. Inilah momentum kita untuk tidak merasa diri sombong. Kita bukanlah siapa-siapa maka kita tak boleh angkuh. Takabur adalah salah satu penyakit hati yang mudah tampak pada perilaku. Mau merenung, merefleksikan diri menjadi cara kita meniadakan sifat takabur.
Sungguh refleksi diri menjadi penting bagi kita hari-hari ini dan esok. Refleksi diri adalah pengendalian diri agar kita tidak semakin terbelenggu oleh hawa nafsu, hingga lupa menghitung-menghitung diri (muhasabah) dalam ketaatan-Nya. Kalau saja refleksi diri dalam hidup telah kita lakukan, kemudian kita akan kembali “bergerak”, move on … Karena hakikat hidup juga kita dinamis, bergerak seiring dinamika zaman.Kalau kita sepakat hidup adalah perjalanan, maka setelah “berhenti sejenak” kita harus kembali bergerak. Betapa indahnya hidup kita, jika kita mampu merajut “refleksi diri” dan “move on – bergerak kembali” sebagai bagian dari siklus kehidupan yang kita bangun. Kita tetap fokus menengok ke depan dan menjalani kehidupan, di samping tetap melakukan refleksi diri atas apa yang sudah kita lewati. Mengapa kaca mobil depan lebih besar daripada kaca spion, karena kita diminta untuk tetap fokus dan bergerak maju ke depan agar berhasil dengan sesekali melihat sejenak apa yang ada di belakang kita. Tetap fokus ke depan, tetapi perlu sedikit melihat ke belakang agar semuanya terkendali dengan baik. Jadi, mulailah untuk mengambil momentum “Refleksi Diri, lalu Move On …” Barakallah Fikum ….

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/537398/1/refleksi-diri-lalu-move-on-.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s