Hasil Investigasi PW. GP. ANSOR Papua- Papua Barat

Hasil investigasi PW. GP. ANSOR Papua-Papuar Barat sebagai berikut :

Sekilas Fakta Kasus Tolikara versi warga
1. ada surat edaran dari GIDI yang melarang adanya kegiatan shalat ied dan berjilbab, kalau mau shalat ied bisa di wamena atau jayapura, alasan pelarangan karena sedang ada event nasional Kongres Pemuda GIDI yang berlangsung hingga tanggal 19 Juli 2015, Surat Edaran itu juga bahkan melarang membangun tempat ibadah dari pemeluk agama kristen lainnya
2. karena mengetahui surat edaran tersebut, sebagian warga Tolikara H-5 sudah bertolak ke Wamena, namun H-2 ada info bahwa ada pertemuan Kapolres, Presiden GIDI, dan Pemda, sehingga perayaan Ied tetap di perbolehkan hanya kalau bisa lebih pagi, sebelum jam 07.00 WIT
3. Warga Tolikara sebagian ada yang kembali berlebaran di Karubaga, Tolikara.
4. Shalat Ied di laksanakan di halaman Koramil yang di batasi dengan pagar setinggi kurang lebih 1 meter dari jalanan, tidak ada penggunaan TOA tapi yang digunakan hanyalah loudspeker dalam berukuran 20 cm – 30 cm yang lazim di gunakan di masjid – masjid, karena penggunaan TOA memang selama ini sudah di larang di Tolikara.
5. dari pukul 06.00 WIT persiapan shalat ied sudah di lakukan, sekitar pukul 06.30 WIT, di mulai dengan penjelasan tata cara shalat Ied, dan dilanjutkan dengan shalat Ied,.
6. pada takbir kelima, dari balik pagar koramil mulai terdengar suara – suara kelompok massa menggunakan megaphone meminta dihentikan kegiatan ibadah tersebut, dan pada takbir ketujuh, makmun yang setengah khusyuk kaget karena lama menunggu kenapa imam tidak membaca surat fatihah, kegaduhan mulai terjadi, lemparan batu ke jamaah juga mulai berlangsung,karena imam stop baca fatihah, dan adanya lemparan batu, akhirnya jamaah bubar diri dan kocar kacir, di dalam jamaah ada anggota Birmob atau polisi yang juga ikut shalat, dan saat shalat senjata mereka ada di samping, karena mulai kacau, anggota Brimob yang berada dalam areal shalat Ied yang di batasi pagar menembak ke udara sebagai peringatan.
7. keadaan mulai kacau, jamaah berhamburan ada yang bersembunyi ke kantor koramil, ada yang mencari jalan lewat jalur belakang, sementara petugas yang bertugas di luar pagar terbatas jadi tidak bisa mengendalikan massa, sehingga terjadilah penembakan, warga tidak mengetahui bagaimana dan siapa saja yang menembak dan tertembak, karena situasinya kacau, masih ada satu dua tembakan terdengar, setelah sekitar 30 menit sunyi tembakan, warga yang masih berada di tempat shalat ied akhirnya memberanikan diri pulang ke rumah masing – masing, sebagian masih berlindung di koramil.
8. sekitar 30 menit pasca bunyi tembakan, tidak lama kemudian terlihat asap dari arah sebuah kios yang posisinya bersebelahan dengan kiblat musholla, perlu diketahui bangunan yang dikatakan masjid atau musholla itu bukanlah sebuah bangunan tempat iabdah lazimnya yang kita lihat di tempat lain, tapi hanya sebuah bangunan papan tanpa kubah, yang menempel jadi satu dengan beberapa kios yang berderet – deret,
9. tidak ada pembakaran musholla atau masjid secara langsung, tapi musholla ikut terbakar.
10. pengeras suara yang digunakan adalah hanya untuk dalam ruangan, bahkan menurut keterangan seorang ibu yang rumahnya 300 meter dari tempat shalat ied, suara loudspeker tidak kedengaran sampai rumahnya, malah lebih keras suara megaphone yang digunakan oleh massa, dan bunyi tembakan lebih keras dari bunyi loudspeker
Indikasi kejadian 🙏 Rahmat Kogoya: sebagai anak tolikara mungkin perlu untuk saya luruskan sedikit bahwa konflik yang terjadi di Desa Paido Distrik Panaga Kabupaten Tolikara paada tanggal 9 sampai 15 juli bukan sepenuhnya perzinaan, melainkan dendam antar kepala Kampung Versi SK Mantan Bupati Tolikara yang diganti secara serentak sejak kepemimpinan Usman Genongga Wanimbo sebagai Bupati‎ hanya dengan Nota Dinas, Nota Dinas Bupati sendiri berlaku untuk pergantian 541 Kepala Kampung di Tolikara secara serentak pada tahun 2012 dan sejak Nota Dinas tersebut terbit hak, honor maupun dana – dana bantuan di kelola oleh Kepala Kampung Versi Nota Dinas Bupati, Nota Dinas itupun sendiri terdiri dari 2 Versi yaitu Kepala Kampung Versi Nota Dinas Bupati dan Kepala Kampung Verse Nota Dinas Kabag Pemerintahan Desa/Kampung Tolikara, bagaimana tidak konflik kalau dalam 1 kampung/ Desa ada 3 Kepala Kampung

Konflik sendiri terjadi saat penyerahan honor dan dana – dana bantuan kampung/desa pada tanggal 9 juli lalu, hal ini diakibatkan adanya saling klaim antar kepala kempung dari ketiga versi diatas, beberapa kali saya dan teman-teman melakukan aksi demo baik di KPK maupun Kejati Papua guna mengusut tuntas korupsi Bupati Tolikara atas penyelewengan Dana – dana untuk Desa/Kampung, serta penyampaian alasan dan kemungkinan – kemungkinan yang terjadi apa bila terjadi pembiaran atas apa yang dilakukan oleh Bupati Tolikara. Bukti kami sudah sampaikan kemana – mana sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak yang berwenang atas laporan kami. Bahkan kami justru di tuding dibonncengi kepentingan politik saat melakukan aksi demo pada setiap kesempatan
Aksi demi aksi yang dilakukan oleh masyarakat Tolikara atas kebobrokan kinerja Bupati Tolikara Usman Genongga Wanimbo

http://tabloidjubi.com/2014/01/24/perwakilan-kepala-kampung-tolikara-akan-bawa-data-korupsi-ke-polda-papua/‎

http://skalanews.com/berita/detail/192743/Mahasiswa-Tuntut-KPK-Ambilalih-Kasus-Korupsi-Bupati-Tolikara

‎http://skornews.com/skor-dugaan-korupsi-bupati-tolikara-ngendap.html

http://www.kompasiana.com/wartaone.co.id/kpk-mabes-polri-kejaksaan-agung-dinilai-tebang-pilih-tangani-kasus-korupsi_555462cb6523bd001e4aef9c

Tudingan DPRD Provinsi Papua terhadap kami

http://www.pasificpos.com/index.php/sosial-politik/3064-orwan-tolly-wonne-demo-mahasiswa-tolikara-ke-kejati-tak-sesuai-prosedur‎

Bantahan kami

http://www.pasificpos.com/index.php/headline/3168-apmppkt-tolikara-bantah-demo-mahasiswa-diboncengi-elit-politik

Jadi wajar kalau saat ini masyarakat Tolikara sudah muak dengan Kinerja Aparat penegak hukum, korupsi sampai 635 Miliar yang didukung dengan alat bukti serta keterangan saksi sampai saat ini ngak tuntas tuntas.

Kemudian perlu ketahui oleh Publik bahwa, Bupati Tolikara adalah Ketua Panitia Pelaksana Seminar dan Kongres Pemuda GIDI di Tolikara, sekali lagi bahwa kuat dugaan Bupati Tolikara sengaja menciptakan konflik di Tolikara guna menghindari proses hukum yang menantinya

Insiden 17 juli kemarin hannya ulah oknum yang telah dipersiapkan oleh Bupati Tolikara, mereka memanfaatkan masyarakat kampung yang masih primitif dan terisolir sehingga yang sejak lahir hingga tua masih tetap di Tolikara mereka tidak pernah tahu dunia luar tolikara itu seperti apa, pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama itu bertujuan untuk apa, karena yang mereka tahu bahwa Negara Indonesia itu hanya Papua dan Tolikara.

Kami bahkan telah serahkan alat bukti di kantor pusat BIN bulan februari kemarin, jadi kalau mau melihat insiden 17 juli kemarin jangan dilihat sepengal – sepenggal, tapi kamilah saksi sekaligus korban yang berada di daerah, ini karena ada pembiaran atas kesewenang wenangan, karena ada pembiaran maka tingkah Bupati semakin melonjak, ibarat anak sekolah tiap tahun akan naik kelas ada Negara didalam Negara…

One thought on “Hasil Investigasi PW. GP. ANSOR Papua- Papua Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s